Archive

Islam

Ada Apa di Balik Aliran Sesat yang Melecehkan Islam?

Munculnya aliran sesat di Indonesia berlatarbelakang Kejawen yang melecehkan ajaran-ajaran Islam bukan kali ini saja terjadi. Pada masa lalu, pelecehan terhadap Islam oleh para penganut Kejawen dan aktivis kebangsaan juga kerap dilakukan. Mereka menyebut Islam sebagai agama yang diimpor dari Arab dan tidak cocok bagi masyarakat Jawa. Karena itu, mereka melakukan pelecehan terhadap syariat haji, shalat lima waktu, melecehkan al-Qur’an, dan lain-lain.

Sebut misalnya pelecehan yang dilakukan oleh dr Soetomo, pendiri organisasi Boedi Oetomo. Dalam sebuah pernyataannya di koran Soeara Oemoem, Soetomo pernah mengatakan, “Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekkah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.” Bagi Soetomo, uang yang dipakai untuk berhaji, tak lain adalah menimbun uang untuk kepentingan asing. Soeara Oemoem juga pernah memuat sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang menggunakan nama samaran “Homo Sum”. Tulisan itu mengatakan bahwa ke Boven Digul lebih baik dari pada ke Makkah. Siapa “Homo Sum” itu? Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa itu adalah Soetomo. Soeara Oemoem adalah surat kabar yang dipimpin oleh Soetomo, yang banyak menyajikan berita dan artikel tentang kebatinan.

pelecehan Islam yang mereka lakukan adalah mengulang cerita lama pelecehan-pelecehan yang pernah dilakukan para penganut Kejawen. Mereka seolah menyimpan ‘dendam turunan’, karena kepercayaan Kejawen terkikis oleh ajaran Islam.

Kebanyakan aktivis Kejawen saat itu adalah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Theosofi dan Freemasonry. Sebab, pelecehan yang dilakukan mereka terhadap Islam, sama persis dengan pelecehan yang dilakukan oleh para anggota Freemasonry dan Theosofi pada masa itu. Theosofi misalnya, pernah mengatakan, tidak usah beribadah haji ke Mekkah, cukup dengan mengunjungi candi Borobudur saja. Saat itu, kelompok Theosofi di Indonesia menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”.

Pelecehan serupa pernah dilakukan oleh Jong Vrijmeteselarij alias Pemuda Freemasonry di Batavia. Dalam sebuah pertemuan di Loge Broderketen Batavia, seorang propaganda Freemasonry yang menyebut Islam sebagai agama impor dan menghina tempat suci umat Islam, Baitullah, yang menurut mereka tak lebih baik dari Candi Borobudur dan Mendut.” Indonesia mempunyai kultur sendiri dan kultur Arab tidak lebih tinggi dari Indonesia. Mana mereka mempunyai Borobudur dan Mendut? Lebih baik mengkaji dan memperdalam Budi Pekerti daripada mengkaji agama impor. Kembangkan nasionalisme dalam semua bidang!” tegasnya.

Pada 21 April 1904, sebuah Koran Melayu-Jawa bernama “Darmo-Kondo” yang terbit di Surakarta memuat karangan tanpa nama penulis berjudul “Hal Budi Manusia”. Dalam tulisan itu dibahas tentang pengertian Budi. “Di antara keagungan yang ada di dunia, tidak ada yang lebih agung daripada “Budi”…orang berbudi yang tertidur lebih mulia daripada si dungu yang shalat.”

Dalam Koran Djawi Hisworo yang terbit di Solo pada 1918, penganut Kejawen Marthodharsono dan Djojodikromo membuat tulisan yang menghina Nabi Muhammad SAW dengan menyebutnya sebagai pemabuk dan penghisap candu. Penghinaan juga dilakukan aktifis Kejawen yang juga anggota Theosofi, Soewarni Pringgodigdo, yang mengatakan bahwa poligami adalah hal yang nista dan merendahkan perempuan. Soewarni mengatakan, Indonesia tidak akan mendapatkan kemerdekaan yang sempurna selama rakyatnya menyukai poligami. Poligami, katanya, hanya menjerumuskan orang ke jurang kehinaan dan ketidakmerdekaan. Karena itu jika bangsa Indonesia ingin maju dan modern, poligami harus dihapuskan.

Penghinaan terhadap ajaran Islam juga pernah dilakukan oleh aktifis Theosofi-Kejawen Siti Soemandari dalam Majalah Bangoen pada tahun 1937. Dalam beberapa artikel di majalah tersebut, Siti Soemandari sebagai pemimpin redaksi banyak memuat artikel yang melecehkan Islam, terutama tentang pernikahan dan menghina istri-istri Rasulullah. Akibat pelecehan yang dilakukan Majalah Bangoen umat Islam mengadakan rapat akbar di Batavia untuk memprotes artikel tersebut. Apalagi diketahui, Majalah Bangoendibiayai oleh Freemasonry.

Pelecehan Islam oleh Aliran Sesat Masa Kini

Kasus terbaru tentang aliran sesat Perguruan Santriloka dan Padange Ati (PA), sejatinya adalah mengulang cerita lama pelecehan-pelecehan yang pernah dilakukan para penganut Kejawen. Mereka seolah menyimpan ‘dendam turunan’, karena kepercayaan Kejawen terkikis oleh ajaran Islam.

Mengapa para penganut Kejawen begitu membenci ajaran Islam? Setidaknya kita bisa merunut kisah dari sejarah runtuhnya Kerajaan Mojopahit yang bercorak Hindu-Budha dan berdirinya Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Para raja Demak yang menganut Islam kemudian menyebarkan ajaran Islam ke rakyatnya, dan berusaha membersihkan kepercayaan peninggalan Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa.

Mereka beranggapan, al-Qur’an yang beredar saat ini salah karena dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Mojopahit, Jawa, dan Pancasila…

Kisah paling terkenal dalam masyarakat Jawa adalah tentang Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang (1426-1517), penganut kebatinan yang menyebarkan ajaran wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti), yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan. Ajaran Syekh Siti Jenar kemudian dianggap meresahkan oleh Wali Songo, para mubaligh Islam pada masa Kerajaan Islam Demak, karena bisa membawa kepada kesesatan. Syekh Siti Jenar kemudian dipanggil para wali dan petinggi kerajaan. Karena tetap mempertahankan keyakinannya, Syekh Siti Jenar akhirnya dihukum gantung di hadapan Sultan Fatah.

Meski sudah mati, ajaran Syekh Siti Jenar masih berkembang di Jawa. Mereka yang menganut paham wihdatul wujud atau al-hulul masih menjadikan Siti Jenar sebagai panutan, terutama oleh berbagai aliran kebatinan. Mereka yang meyakini Syekh Siti Jenar sebagai waliyullah, seperti menyimpan dendam turunan pada ajaran Islam. Sampai akhirnya muncul berbagai pernyataan yang mengatakan bahwa Islam adalah agama impor yang menjajah tanah Jawa. Pernyataan ini pernah dilontarkan oleh para aktivis Theosofi dan Freemasonry pada masa-masa suburnya gerakan tersebut di negeri ini.

Sebagai bukti bahwa penganut Kejawen seperti “menyimpan dendam turunan” pada ajaran Islam adalah kasus terbaru munculnya Perguruan Ilmu Kalam Santriloka, di Mojokerto, Jawa Timur, pada Oktober 2009. Santriloka menyatakan bahwa Islam adalah agama impor yang bertujuan menjajah tanah Jawa. Mereka juga beranggapan, al-Qur’an yang beredar saat ini salah, karena sesungguhnya al-Qur’an itu bukan dalam bahasa Arab, melainkan bahasa Kawi, bahasa Sanskerta, dan bahasa Jawa Kuno. Al-Qur’an yang beredar saat ini disebut sebagai buatan orang Arab untuk menjajah bangsa Indonesia. Karena mereka yakin bahwa al-Qur’an sesungguhnya dalam bahasa Jawa Kuno, maka bagi mereka al-Qur’an sebenarnya diturunkan di tanah Jawa kepada para wali dan Dewa. Naf’an menegaskan, ”Al-Qur’an yang ada ini, dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Mojopahit, Jawa, dan Pancasila. Siapa yang bertanggungjawab kalau al-Qur’an ini salah. Apa Nabi mau tanggungjawab.

Santriloka juga mengaku menjalankan kepercayaan wihdatul wujud dan meyakini Syekh Siti Jenar sebagai waliyullah yang bisa menjadi sarana tawassul. “Syekh Siti Jenar merupakan salah satu wali yang kami tawassul saat wiridan, ” ujar Ahmad Naf’an pimpinan perguruan sesat ini. Bagi para penganut kebatinan Syekh Siti Jenar adalah waliyullah yang dizalimi oleh para penganut Islam pada masa Kerajaan Demak

Doktrin Pluralisme
Seperti juga doktrin Theosofi yang kental dengan aroma pluralisme, Santriloka dan juga catatan-catatan dalam kitab para penganut Kejawen juga sangat kental dengan paham yang sama. Santriloka misalnya, menggunakan motto “Iman Sedarah” yang maksudnya agama apa saja pada intinya sama dalam keimanan. Mereka juga menolak surat al-Kafirun dalam Al-Qur’an yang dianggap bisa memecah-belah umat manusia. “Surat Al-Kafirun, itu sesat. Bukan kalam Allah tapi suara orang Arab. Bagaimana, kok bisa Tuhan Allah mengecam dan menyuruh orang agar memusuhi orang yang dianggap kafir, ” tegas Naf’an.

Doktrin pluralisme juga bisa dilihat dalam Darmogandul. Kitab  penganut Kejawen ini banyak berisi pelecehan terhadap ajaran Islam. Ajaran-ajaran Kejawen yang mirip dengan doktrin-doktrin yang ada pada ajaran Kristen…

Ketika para penganut Kejawen mengatakan bahwa tak perlu beribadah haji ke Mekkah, cukup dengan mengunjungi Borobudur dan Islam adalah agama impor yang menjajah tanah Jawa, maka jelaslah “sikap dendam” mereka terhadap ajaran Islam yang dianggap bertanggungjawab dalam runtuhnya peradaban Jawa Kuno yang bercorak Hindu-Budha.

Doktrin pluralisme juga bisa dilihat dari Kitab Darmogandul, kitab para penganut Kejawen yang banyak berisi pelecehan terhadap ajaran Islam. Dalam kitab tersebut, banyak ajaran-ajaran Kejawen yang mirip dengan doktrin-doktrin yang ada pada ajaran Kristen. Isi Kitab Darmogandul dalam beberapa hal justru menunjukkan bahwa penulisnya yang no name (tanpa nama) terlihat lebih menguasai ajaran-ajaran Kristen. Dalam kitab ini penulisnya berusaha untuk menggambarkan bahwa agama Kristen lebih unggul dibanding agama-agama lain. Kristen dalam Darmogandul digambarkan dengan imej positif, sementara Islam digambarkan dengan sangat negatif, bahkan melecehkan. (Lihat: Susiyanto: Jejak Syariah Phobia dalam Pemikiran Jawa, (Makalah), 2009).

Dalam Kitab Darmogandul disebut istilah wit kawruh yang berarti “Pohon Pengetahuan”, sebuah idiom yang terdapat dalam ajaran Kristen seperti tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Kejadian 2:16-17: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”. Dalam istilah yang hampir sama, ajaran Kabbalah menggunakan istilah “Pohon Kehidupan” (Tree of Life).

Berikut kutipannya:

“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora naganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkana kang kasebut ing kitab Ambiya.”

(Yang dinamakan agama Nasrani artinya sarana berbakti benar-benar berbakti kepada Tuhan, tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, Maka gelar Gusti Kanjeng Nabi Isa adalah Putra Allah, karena Allah yang mewujudkannya, demikian yang termaktub dalam kitab Ambiya).

Kisah dalam Kitab Darmogandul juga merujuk pada Perjanjian Lama yang dijadikan dasar rujukan oleh Kristen dan Yahudi. Misalnya kisah mengenai putra Nabi Daud yang disebut akan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan ayahnya. Kudeta tersebut gagal, dan sang anak mati tersangkut di pohon.

Berikut kutipannya:
“…carita tanah Mesir, panjenengane Kanjeng Nabi Dawud, putrane anggege keprabone rama, Nabi dawud nganti kengser saka nagara, putrane banjur sumilih jumeneng nata, ora lawas Nabi Dawud saged wangsul ngrebut negarane. Putrane nunggang jaran mlayu menyang alas, jaranae ambandang kecantol-cantol kayu, putrane Nabi Dawud sirahe kecantol kayu, ngati potol gumantung ana ing kayu, iya iku kang di arani kukuming Allah.”

(cerita dari Mesir, Beliau Nabi Dawud, putranya bernafsu menggantikan kekuasaan sang ayah. Nabi Dawud sampai terdesak meloloskan diri keluar dari Negara, Anaknya tersebut kemudian menggantikan sebagai raja, tidak seberapa lama Nabi dawud kembali berhasil merebut negaranya. Anaknya melarikan diri dengan mengendarai kuda menuju ke hutan. Kuda tersebut berlari tanpa tentu arah tersangkut-sangkut kayu. Putra Nabi dawud kepalanya menyangkut di kayu sampai terpotong menggantung dikayu. Itulah yang dinamakan hukum Allah).

Dalam perjanjian Lama, Kitab Samuel 2 pasal 15-18 diceritakan, Absalom putra Raja Daud berusaha mengadakan makar dengan menghimpun kekuatan rakyat untuk memberontak terhadap ayahnya. Dalam pemberontakan itu, Absalom kalah dan tewas mengenaskan dengan kepala tersangkut di atas pohon saat melarikan diri dengan menggunakan bagal, binatang keturunan kuda dan keledai. (Susiyanto, Ibid, hal.6)

Contoh doktrin-doktrin pluralisme juga bisa dilihat dari ajaran-ajaran yang menjadi kepercayaan organisasi-organisasi Kejawen seperti Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), Agama Sapta Dharma, Paguyuban Sumarah, Paguyuban Ilmu Sejati, Susila Budi Dharma, Agama Jawa-Sunda, dan lain-lain. Organisasi-organisasi ini meyakini bahwa semua agama adalah sama.

Politik Kolonialis
Mengenai asal usul Kejawen, sejarawan Niels Mulder mengatakan, ”Kejawen sejauh yang kita ketahui saat ini jelas-jelas merupakan sebuah produk dari pertemuan antara Islam dengan peradaban Jawa Kuno, produk dari penjinakan, penundukkan kerajaan-kerajaan Jawa oleh kongsi dagang Hindia Timur (VOC), hasil dari pertemuan kolonial antara orang Jawa dan Belanda.” (Niels Mulder, Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia, Yogyakarta: LKiS, 2009).

Karena persentuhannya dengan kolonialisme dan aliran-aliran lain seperti Theosofi yang berupaya merusak Islam, maka wajar jika ajaran kebatinan juga banyak melecehkan ajaran Islam…

Niels menggambarkan bahwa Kejawen adalah “produk penjinakan dan penundukkan” kerajaan-kerajaan Jawa oleh VOC. Dan seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa banyak dari pegawai VOC, dari juru tulis sampai jabatan tertinggi, adalah para keturunan Yahudi yang di kemudian hari membangun jaringan Freemasonry dan Theosofi di Indonesia. Niels menegaskan, orang Jawa dan Eropa bertemu dalam masyarakat Theosofis, dalam kawruh beja (Ilmu Kebahagiaan).

Soal pengaruh kolonialis dalam Kejawen juga dinyatakan oleh Buya Hamka. Dalam tulisannya tentang perkembangan kebatinan di Indonesia, Hamka menyatakan bahwa ada upaya-upaya dari kelompok orientalis Belanda yang menyusup ke dalam ajaran kebatinan atau Kejawen, dengan berkedok meneliti ajaran kepercayaan Jawa tersebut, kemudian menyebarkannya ke kalangan masyarakat Islam dengan tujuan perusakan akidah. Mereka menyebarkan propaganda bahwa kebatinan tak ubahnya sebagai sufisme dalam Islam.

Hamka mengatakan, “Sarjana-sarjana orientalis seperti Snouck Hurgronye, Dr Drewes, Dr Rinkes, dan lain-lain mengkaji secara ilmiah tasauf kuno dan kejawen, kemudian disebarkan kepada masyarakat. Sehingga disimpulkan oleh mereka bahwa tasawuf Islam adalah “al-hulul” atau “bersatunya kawula nan gusti”. Tujuannya, apabila tasawuf sudah dipelajari secara mendalam, maka syariat tidak perlu lagi. Orang Islam yang bertasawuf bisa mencapai persatuan dengan Tuhan.” (Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1974).

Karena persentuhannya dengan kolonialisme dan aliran-aliran lain seperti Theosofi yang berupaya merusak keyakinan Islam, maka wajar jika ajaran-ajaran kebatinan juga banyak melecehkan ajaran Islam. Tentang jihad misalnya, para penganut kebatinan mengatakan, ”berjuang melawan hawa nafsu sendiri karena isyqdan cinta kepada Tuhan Semesta Sekalian Alam lebih tinggi nilainya daripada mati syahid di medan perang karena mempertahankan agama dari serbuan musuh.”

Antara misi Kristen dengan penjajahan Belanda memang satu paket. Dan untuk melakukan pelemahan terhadap Islam yang saat itu begitu gigih melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, menghasut dengan membuat cerita-cerita negatif dan melecehkan adalah salah satu cara yang mereka gunakan. Tak tertutup kemungkinan, mereka melakukan politik pecah belah, memukul dengan menggunakan tangan kelompok kebatinan, yang memang sudah dari dulu menyimpan ‘dendam’ dengan umat Islam akibat jatuhnya Mojopahit ke tangan kerajaan Demak. [Artawijaya/voa-islam.com]

sumber: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2009/11/13/1675/ada-apa-di-balik-aliran-sesat-yang-melecehkan-islam/

“Aisyah membungkam syiah”

Semoga bermnfaat, baca smpe selesai ya…

Kisah Aisyah ini terjadi pada hari Senin (15/9/14) di kota Medan, sebelum dia pergi ke masjid untuk mengisi kajian ibu-ibu dekat rumah, dia menyempatkan untuk mampir dulu ke rumah sepupu karena ingin mengambil kitab Fiqih Sunnah yang beberapa hari lalu dipinjamkan kepada sepupunya karena Aisyah akan membawanya ke pengajian.

Ternyata di rumah sepupunya sedang ada tamu yang penampilannya sangat islami, Kemudian Aisyah bertanya kepada sepupunya
Siapa mereka?

Sepupunya menjawab: Mereka itu temanku sewaktu SMA.
Kemudian Aisyah memuji penampilan mereka yang sangat islami,
dia berkata: nah begitu dong kamu seharusnya, pakai pakaian yang tertutup (jilbab besar).

Sepupunya menimpali: Tapi pemahaman mereka beda dengan pemahamanmu yang kau ajarkan padaku Aisyah.

Aisyah pun bertanya: Memang bagaimana perbedaannya?
Sepupunya menjawab: Lebih baik kau bicara sendiri dengan mereka.

Aisyah menjawab: Tapi aku sedang ada pengajian.

Sepupunya berkata: Sebentar saja, setidaknya kau bisa mengetahui perbedaan pemahamanmu dengan mereka.

Baiklah kata Aisyah.

Kemudian Aisyah ikut duduk di ruang tamu dengan mereka dan mengucapkan salam.

Setelah ngobrol beberapa waktu, Aisyah sudah bisa memastikan bahwa mereka ini adalah wanita-wanita Syiah.

Lalu Aisyah beranikan diri untuk bertanya,: Kalian syiah?
Si tamu pun menjawab: Benar.

Aisyah berkata: Subhanallah, sungguh indah penampilan wanita-wanita Syiah..

Si tamu pun tertawa ringan dan berkata: Terima kasih tapi memang beginilah kami di ajarkan dan kami kemari pun dengan tujuan mengajak teman kami ini (sepupu Aisyah) untuk ikut dalam pengajian kami. Jika mbak Aisyah ingin ikut juga, mari sama-sama.

Aisyah menjawab: Aisyah tertarik sekali ukht, tapi Aisyah sekarang sedang ada keperluan. Bagaimana kalau nanti malam kalian sempatkan datang ke rumah Aisyah untuk mendakwahi Aisyah dan keluarga Aisyah tentang ajaran yang kalian anut, apa kalian punya waktu?

Si tamu pun berkata: Tentu, tentu kami akan datang.

Aisyah mengatakan: Alhamdulillah, nanti Husna (sepupunya) akan menemani kalian, rumah Aisyah dekat dari sini kok.

Kemudian Aisyah pamit, sepupunya mengantarkan ke depan pagar dan bertanya: Aku gak ngerti aisyah, untuk apa kami ke rumahmu?
Aisyah menjawab: Nanti kau akan tau Husna
Sepupunya membalas: Duh syah, jangan gitu, bilang aja..
Aisyah: Mereka sedang berniat untuk mensyiahkanmu Husna, sementara sudah pernah kukatakan bahwa Syiah itu jauh dari Islam.
Maka nanti malam in sya Allah kita yang akan mengembalikan pemahaman mereka ke pemahaman yang benar, in sya Allah.

Setelah selesai shalat Isya’ beberapa menit kemudian datanglah mereka ke rumah Aisyah. Tapi Aisyah melihat mereka bersama seorang lelaki dan penampilannya juga luar biasa islaminya, berjubah putih dan imamah hitam.

Aisyah senyum saja dan sudah tau bahwa ini lah orang yang akan mereka andalkan dalam mendakwahi Aisyah sekeluarga.
Wanita-wanita itu memberi salam dan Aisyah menjawab salam mereka dengan senyum tapi Aisyah tidak langsung mempersilahkan mereka masuk rumah.

Aisyah berkata: afwan ukht, tunggu dulu, sebelum masuk rumah, Aisyah harus minta izin dulu pada mahram Aisyah, sebab kalian membawa seorang lelaki.

Mereka mengangguk saja dan tersenyum manis.
Aisyah bertanya pada abangnya: Bang, apakah laki-laki ini boleh masuk?

Abang Aisyah menjawab: Boleh.. biar abang yang menemani kalian.
Kemudian masuklah mereka semua, dan memperkenalkan laki-laki yang ada bersama mereka, ternyata benar bahwa laki-laki itu yang membimbing mereka dan yang mengisi dakwah di pengajian mereka.
Singkat cerita, setelah basa basi selama 3-4 menit maka dakwah mereka pun di mulai.

Salah seorang tamu tadi bertanya: Mbak Aisyah nama lengkapnya siapa?

Aisyah menjawab: Aisyah bintu Umar al Muhsin bin Abdul Rahman Salsabila, kenapa ya ukht?

Si tamu: Wow panjang juga ya hehe.. oh enggak hanya kami ingin memanggil mbak dengan nama yang lain, bagaimana jika kami panggil dengan Salsa saja?

Aisyah sudah menyadari bahwa mereka tidak akan suka dengan nama Aisyah, sebab serupa dengan nama istri Rasulullah, dan mereka sangat benci kepada ummul mukminin Aisyah.. na’udzu billah min dzalik
Aisyah pun tersemnyum dan berkata: Boleh juga, tapi boleh tau alasannya apa ya ukht?
Si tamu: Kami tidak menyukai nama itu sebab ………. (dia cerita cukup panjang dan intinya menjelek-njelekkan ummul mukminin Aisyah).

Tiba-tiba si laki-laki (ustadz Syiah) yang mereka ajak itu angkat suara.

Ustadz Syiah itu berkata: Aisyah itu adalah pendusta dan pezina, semoga Allah membakarnya di neraka.

Mendengar ucapan orang bodoh ini mata Aisyah spontan tertutup dan hati aisyah terasa bergetar.. kemudian Aisyah menundukkan kepala dan mengucap istighfar, dan memohon pada Allah agar dikuatkan mendengar fitnah keji dari mulut-mulut yang masih jahil, kemudian setelah tenang, Aisyah angkat kepala dan senyum pada mereka dan membuat situasi seolah-olah Aisyah tidak tau tentang hal itu.

Aisyah berkata: Masya Allah, benarkah begitu ustadz?
Ustadz Syiah menjawab: Benar, dialah penyebab wafatnya rasulullah, dia yang meracuni rasulullah hingga wafat.. semoga laknat selalu menyertainya.

Air mata aisyah menetes mendengar ucapan orang ini, dalam hatinya bagai tersayat-sayat.. seorang ibu dihina di depan anak-anaknya, rasanya ingin melemparkan gelas ini ke wajahnya. Aisyah pun melihat abangnya sudah mengenggam kedua tangannya dan menahan amarah. Namun sebelumnya Aisyah sudah mengiingatkan kepada abangnya bahwa diskusi ini tentu akan membuat hati panas.
Aisyah pun menimpali: Astaghfirullah, sehebat itukah fitnahnya?
Si tamu wanita menjawab: Kok fitnah mbak? itu nyatanya, nih kami bawa kitab tafsir Al Ayyasyi (kitab Syiah) didalamnya terdapat bukti, bahkan Abdullah bin Abbas mengatakan Aisyah adalah seorang pelacur, ini ada kitabnya.

Dia keluarkan kitab tapi Aisyah lupa nama kitabnya, ma’rifat rijal kalau Aisyah tidak salah ingat.
dan Aisyah melihat memang isinya benar seperti yang mereka ucapkan.

Singkat cerita, mereka terus menghina Aisyah dan para sahabat, sampai telinga ini seperti sudah bengkak.
Akhirnya Aisyah tidak tahan dan berkata pada mereka: Sebentar ustadz, Aisyah mau ambil kitab Syiah punya Aisyah, ada yang ingin Aisyah tanyakan mengenai isinya.

Ustadz Syiah menjawab: Silahkan.
Aisyah sudah siapkan satu soal yang akan menunjukkan jati diri mereka, apakah mereka orang yang cerdas atau cuma bisa ngomong besar.
Dan pertanyaan ini juga pernah ditanyakan oleh syaikh Adnan kepada seorang syaikh Syiah, tapi syaikh Syiah malah bingung menjawabnya.
Aisyah berkata sambil menyodorkan kitabnya: Nih dia kitabnya.
Ustadz Syiah: Oh saya juga punya itu, Al Ghaibah, kebetulan saya bawa hehe.

Aisyah berkata: Oh iya, kebetulan..
Si tamu wanita berkata: Hehe, Allah memudahkan urusan kita hari ini.

Aisyah tersenyum ringan melihat tingkah laku mereka.
Aisyah berkata: Begini ustadz, di dalam kitab ini disebutkan tentang beberapa wasiat rasul kepada imam ali, benarkah ini ustadz?
Ustadz Syiah: Halaman berapa?
Aisyah: 150 no 111
Ustadz Syiah: Sebentar saya lihat. Ya, benar, lalu apa yang ingin ditanyakan dari wasiat yg mulia ini?
Aisyah: Masih berlakukah wasiat ini ustadz?
Ustazd Syiah: Tentu, sampai hari kiamat.
Aisyah: Di dalam kitab ini rasul berwasiat
“Yaa ‘Aliy anta washiyyi ‘ala ahli baiti hayyihim wa mayyitihim wa ‘ala nisa-i. fa man tsabbattuha laqiyatniy ghadan, wa man tholaqtuha fa ana bari’un minha”.
Ustadz Syiah hanya bergumam
Aisyah: Benarkah ini ustadz?
Ustadz Syiah: Bagaimana kamu mengartikan kalimat wasiat itu.
Aisyah: Isi wasiat ini adalah
“wahai ‘Ali engkau adalah washiy ahlul baitku (penjaga ahlul baitku) baik mereka yang masih hidup maupun yg sudah wafat, dan juga ISTRI-ISTRIKU. Siapa diantara mereka yang aku pertahankan, maka dia akan berjumpa denganku kelak. Dan barang siapa yang aku ceraikan, maka aku berlepas diri darinya, ia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya di padang mahsyar.”
Benarkah ini ustadz?
Ustadz Syiah: Benar ini wasiatnya.
Aisyah: Yang ingin saya tanyakan, apakah Aisyah istri Rasulullah itu pernah dicerai oleh Rasulullah?
Ustadz Syiah begumam dan berkata: Tidak..
Aisyah: Apakah Aisyah di pertahankan Rasulullah sampai Rasulullah wafat?
Ustadz Syiah: Ya benar.
Aisyah: Lalu kenapa tadi ustadz bilang Aisyah itu masuk neraka sedangkan dalam wasiat ini Aisyah tergolong orang yang masuk surga??
Ustadz Syiah: Bukan seperti itu maksud dari wasiat ini mbak Salsa.
Aisyah tersenyum melihat tingkah si ustadz dan Aisyah melirik kedua wanita syiah tadi yang mulai hilang senyumannya.

Aisyah: Entahlah ustadz tapi inilah isi dari kitab Syiah dan ini adalah wasiat dari Rasulullah, berarti wasiat ini tidak lagi dianggap oleh orang Syiah sendiri ya ustadz?
Ustadz Syiah: Oooh tidak begitu tapi,, tapi bukan begitu cara menafsirkannya.

Dan akhirnya dia menjelaskan tentang penafsirannya tapi sedikitpun tidak masuk akal bahkan kedua wanita syiah itu sendiri pun terlihat bingung mendengar penjelasan si Ustadz Syiah.
Abang Aisyah pun berkata: Ustadz, saya tidak faham dengan penjelasan antum, mohon diulangi ustadz.
Ustadz Syiah tersebut mulai gelisah.
Ustadz Syiah: Begini, intinya hadits wasiat ini dinilai oleh ahli ilmu hadits Syiah dan tentunya berdasarkan ilmu hadits Syiah adalah lemah sekali bahkan sampai derajat palsu.

Aisyah berkata dalam hati: Wah ini ustadz mulai aneh. tadi katanya wasiat ini masih berlaku sampai hari kiamat, sekarang menyatakannya sebagai hadits palsu.
Aisyah diam beberapa saat memikirkan bagaimana cara membuat orang ini terdiam dan malu karena pendapatnya sendiri.
Aisyah: Sudah-sudah, cukup, mungkin ini terlalu rumit pertanyaannya, nih ada pertanyaan lagi ustadz.
Seperti yang pernah saya dengar bahwa Syiah menganggap bahwa Ali lah yg seharusnya menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah, apakah benar?

Ustadz Syiah: Ya benar sekali, tapi Abu Bakar rakus akan kekuasaan sampai-sampai dia berbuat kezaliman dan makar yang besar, diikuti pula oleh Umar dan Utsman.
Aisyah: Apakah ada dalil yang menunjukkan Ali sebagai orang yang dipilih Rasul menjadi khalifah sesudah wafatnya beliau?
Ustadz Syiah: Tentu ada, hadits Ghadir Khum , ketika Nabi sedang menunaikan haji wada’ disertai beberapa orang sahabat besar, Nabi berkata kepada Buraidah: “Hai Buraidah barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin..”
Aisyah: Ustadz, kalau saya tidak mengamalkan dan sengaja menolak apa yang diperintahkan Nabi, kira-kira apa hukuman buat saya ustadz?
Ustadz Syiah: Mbak Salsabila bisa dihukumi kafir karena mendustakan Nabi.
Aisyah: Astaghfirullah, berarti imam Ali pun telah kafir dalam hal ini ustadz, sebab dia tidak mengindahkan perintah Nabi, jika memang ini dalil yang menunjukkan Ali sebagai khalifah, bahkan imam Ali membai’at Abu Bakar, maka Abu Bakar pun di hukumi kafir, begitu juga Umar, dan semua sahabat yang menyaksikan ketika itu semuanya kafir, sebab yang menjadi pesan Rasul adalah man kuntu maulahu fa ‘Aliyyun maulahu, siapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin.
Benarkah begitu ustadz? Atau haditsnya palsu juga?
Ustadz Syiah: Hmmmm.. Haditsnya shahih.. tapi bukan begitu juga maksudnya.
Aisyah: Tapi tunggu ustadz, sebelum ustadz jelaskan maksudnya saya pengen tanya lagi biar kelar. Apakah setelah imam Ali yang akan menjadi khalifah adalah anaknya Al Hasan?
Ustadz Syiah: Ya benar sekali, tidak bisa dipungkiri.
Aisyah: Ada dalilnya? Shahih apa tidak?
Ustadz: Ada, shahih jiddan (sekali).
Aisyah: Bagaimana bunyinya?
Ustadz Syiah: Wahai Ali engkau adalah khalifahku untuk umatku sepeninggalku, maka jika telah dekat kewafatanmu maka serahkanlah kepada anakku Al Hasan,,
hadits ini cukup panjang menjelaskan tentang 12 imam.
Aisyah: Ustadz coba lihat kembali kitab Al Ghaibah yang berisi tentang wasiat Rasul tadi. Tidakkah isinya sama dengan yg baru saja ustadz sebutkan?
Ustadz Syiah: Sebentar.. oh iya sama.
Aisyah: Bukankah tadi saat kita membahas tentang keberadaan Aisyah di sorga, ustadz katakan hadits ini palsu?, tapi sekarang saat membahas tentang dalil kekhalifahan Ali dan Hasan malah ustadz berbalik mengatakan hadits ini shahih jiddan???
Ustadz Syiah pun diam seribu bahasa. Aisyah melihat raut ustadz berubah dari biasanya, mau senyum tapi tanggung, mau pulang tapi malu.

Aisyah: Ustadz, saya pernah dengar dari teman-teman saya bahwa Syiah itu suka bertaqiyah. Apakah ini bagian dari taqiyah itu?
Abang Aisyah: Hahahaha.. ustadz, akuilah bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah penghuni surga, Abu bakar adalah khalifah pertama, Umar kedua, Utsman ketiga,dan Ali keempat,
kita semua mencintai ahlul bait ustadz, Ali juga setia kepada kepemimpinan Abu bakar, Umar dan Utsman. Dan Ali sangat mencintai ketiga sahabatnya, bahkan sampai-sampai nama anak-anak Ali dari istrinya yang lain (selain Fathimah) diberi nama Abu Bakar, Umar & Utsman … Apakah ustadz mau menafikan itu semua?
Ustadz Syiah: Hmmmmm.. sebaiknya kami pulang saja.
Aisyah: Tunggu ustadz, ustadz belum menjawab pertanyaan kami.
Ustadz Syiah: Sepertinya kalian sudah tau semua.
Aisyah: Oh berarti ustadz mengakui kebenaran ini?
Ustadz Syiah: Allahu a’lam, saya permisi dulu.
Husna (sepupu Aisyah): Bagaimana dengan kalian(kedua wanita syiah)?
Salah satu dari wanita Syiah angkat bicara: “Saya akan kembali lagi besok kesini dan saya harap Husna mau menemani saya”
Ustadz Syiah: Baiklah kalau begitu kalian tinggal disini dan saya pamit.
Wassalamu ‘alaikum..
Kami: Wa’alaikumussalam warahmatullah.
Selesai. (iz)

Sumber: Status FB Aisyah Salsabila

t First Twitter, and then Facebook allow people to express their feelings in short notes. It makes people lazy. It makes me lazy. You see, there are times when I can write long and nonsense articles (just browse around this blog) if you like.

Anyway, I have profited steadily from forex lately. What is forex, you ask? Formally it is an abbreviation of Foreign Currency Exchange, where you can get profit from changing exchange rates of different currencies, mainly US Dollars (USD), Poundsterling (GBP), Swiss Franc (CHF), and Euro (EUR). Forex market is the most liquid and biggest monetary market in the world. It’s the biggest, and also the cruelest market you can ever be in. The profits could catapult you to the moon, or drown you to The Mariana Trench. Really, it’s that liquid, that scary, and that addictive. Just take a look at me: three times burn out of capitals, but come back for more punishments. So far, I am doing okay for three weeks. Let’s see if I can last a year. If I can, and I am on the profit rate that I am in now, well, bye bye 7-5 work. Bye-bye bosses. Welcome lazy life and all day playing.

Hey, one can dream, right? So, if you want to get a taste of forex, register to Marketiva, the best poor man forex broker you can find. It’s so poor man’s friendly, it gives real US$ 5 dollar and virtual US$ 10000 for you to train with. Train yourself hard, understand the charts, the indicators, and how to put positions. This is my personal tips: learn MACD and the power of compoundings.

So, what else? Oh yeah, I found myself becoming more and more militant on the case of Islam. Not as militant as some terorrists (“Islamic terrorists” are really CIA’s work to slowdown the imminent return of Islam as dominant power in 21st century) but militant enough to challenge the minds of those “liberalisms and pluralism thingkers” (read mind terrorists). So hopefully I can help, albeit a little, on culling those vermins and keep Islam pure. Do you know that Liberalist Jews have been having homosexual rabbis for years? True.

Anyway, have a good day 🙂