Archive

Uncategorized

Jangan Mau Dibohongin & Dibodohin pakai Opini Kinerja Baik (Bagian 1)

Selama ini, banyak diopinikan bahwa kinerja Ahok , Gubernur yang juga tersangka penistaan agama, baik. Sayangnya, meski akses informasi demikian luas untuk melakukan analisis klaim tersebut, belum ada yang melakukan evaluasi secara komprehensif. Realitanya ternyata tidak sedikit indikator kinerja kunci Ahok yang lebih buruk dari Fauzi Bowo, Gubernur Kumis. Padahal Ahok memerintah DKI Jakarta dengan kondisi yang jauh sangat nyaman jika dibandingkan dengan Fauzi Bowo. Pada masa Ahok, APBD DKI memiliki nilai hampir 2X lebih lipat dari dari nilai APBD Fauzi Bowo. Selain itu, modal sosial dan dukungan buzzer yang dimiliki oleh Ahok juga jauh lebih besar ketimbang Fauzi Bowo.

1. Tata Kelola Keuangan
Kinerja Ahok terkait Tata kelola keuangan sangat buruk. Hasil audit keuangan BPK menunjukkan bahwa pada Tahun Anggaran 2015 terdapat temuan bermasalah senilai Rp30,15 triliun atau hampir 50% APBD DKI & status hasil audit yang diberikan adalah WDP

http://megapolitan.harianterbit.com/megapol/2016/06/04/63099/28/18/Kinerja-Ahok-Buruk-BPK-Temukan-Anggaran-Bermasalah-Rp30-Triliun

Capaian ini lebih buruk dari Fauzi Bowo yang mampu membawa DKI hanya memperoleh temuan bermasalah senilai Rp. 4,83 T atau 13,42% dari APBD & memperoleh status WTP, status terbaik dalam audit BPK

http://www.jakarta.go.id/v2/news/2012/05/laporan-keuangan-dki-raih-wtp#.WCBD1PTTPmo

2. Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas kinerja pemerintahan DKI Jakarta di bawah Ahok sangat buruk. Hasil penilaian Kementerian PAN & RB nilai akuntabilitas kinerja DKI untuk Tahun 2015 hanya berpredikat CC dan berada pada peringkat 18

http://www.menpan.go.id/berita-terkini/4170-rapor-akuntabilitas-kinerja-k-l-dan-provinsi-meningkat

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/01/20/14030381/Ahok.Akui.Kinerja.Pemerintahan.DKI.Buruk.

http://kabar24.bisnis.com/read/20151223/15/504571/akuntabilitas-pemprov-dki-hanya-kelas-medioker-ini-daftar-peringkatnya

Lebih lanjut, memang sejak Jokowi-Ahok Pemda DKI tidak pernah memperoleh nilai lebih tinggi dari CC

http://www.beritajakarta.com/read/19558/DKI_Didorong_Tingkatkan_Nilai_Akuntabilitas_Kinerja_Instansi#.WCrE-vTTPmo

Capaian ini lebih buruk dari Fauzi Bowo yang pernah membawa akuntabilitas kinerja DKI bernilai B

http://www.jakarta.go.id/v2/news/2011/04/Akuntabilitas-Pemprov-DKI-Capai-Nilai-B#.WCrEivTTPmo

3. Pertumbuhan ekonomi
Data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta pada 2015 hanya 5.88%. Pertumbuhan ini paling rendah sejak tiga tahun sebelumnya

http://jakarta.bps.go.id/Brs/view/id/98)

Pada Triwulan III 2016, angka ini kembali turun hanya mencapai 5.75%
http://jakarta.bps.go.id/Brs/view/id/163). Capaian ini bahkan lebih buruk dari Fauzi Bowo yang rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6.17% (LPPD DKI Jakarta 2007-2012).

Buruknya capaian ini diantaranya disebabkan serapan anggaran yang rendah (72.11%). Dan serapan yang rendah terjadi kembali pada tahun 2016. Kondisi ini membuat Ahok ditegur Jokowi.
http://jakarta.bisnis.com/read/20131206/77/190979/rendahnya-serapan-apbd-dki-hambat-pertumbuhan-ekonomi

http://finance.detik.com/ekonomi-bisnis/2988174/serapan-anggaran-apbd-jakarta-terendah-kedua-se-indonesia

http://nasional.kompas.com/read/2016/08/04/11083771/ahok.yang.pertama.kali.ditegur.saat.jokowi.blakblakan.soal.serapan.anggaran.daerah

4. Kemiskinan
Data BPS menunjukkan terjadi peningkatan jumlah orang Miskin menjadi 384,3 Ribu (3.75%) per Maret 2016

http://megapolitan.harianterbit.com/megapol/2016/07/19/65956/18/18/Era-Ahok-Jumlah-Orang-Miskin-Di-DKI-Meningkat

http://jakarta.bps.go.id/Brs/view/id/169

Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2016) dari 363,2 Ribu (3.69%) per Maret 2012. Capaian ini bahkan lebih buruk dari capaian Fauzi Bowo, dimana ia berhasil menurunkan kemiskinan dari dari 405, 700 jiwa (4.48%) (Maret 2007) menjadi 363,200 jiwa (3.69%) (Maret 2012) (Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2010 & 2015

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/07/17114647/Fauzi.Bowo.Klaim.Angka.Kemiskinan.Menurun

5. Pemukiman/Perumahan Rakyat
Kinerja Ahok terkait pemukiman/perumahan rakyat sangat buruk. Dari sisi penataan kampung kumuh, Ahok gagal melanjutkan proyek kampung Deret Jokowi

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/03/05/14354331/Selama.2015.Tak.Akan.Ada.Pembangunan.Kampung.Deret.di.Jakarta

LKPJ 2014 & 2015). Capaian ini lebih buruk dari Foke yang sukses merubah 274 RW kumuh dengan proyek MHT plus (LPPD DKI 2007-2012).

Dari sisi pembangunan rusun, Ahok tidak membangun rusun yang dapat dimiliki warga (Rusunami) tetapi hanya membangun Rusun yang harus disewa (Rusunawa). Sepanjang 2014-1015, DKI hanya mampu membangun 3.587 unit (1.794/tahun) dengan hampir 28.9% Pusat yang membangun (LKPJ Gub DKI 2014 & 2015). Capaian ini lebih buruk dari Foke yang sepanjang 2007-2011 mampu membangun 3.366 unit Rusunami & 8.971 unit Rusunawa (2242/tahun) (LPPD DKI 2007-2012).

6. Kemacetan
Kemacetan makin menjadi. Riset tempatkan Jakarta Kota paling macet di 178 Negara

http://m.liputan6.com/bisnis/read/2323202/10-kota-termacet-di-dunia-jakarta-juaranya

Capaian Ahok terkait hal ini dapat dinilai sangat buruk bila mengingat tiga indikator lain yang dapat mengurangi kemacetan. Pertama, dari sisi penambahan panjang Jalan, BPS juga menyebutkan bahwa Foke berhasil menambah panjang jalan di DKI dari 6.543.997 m menjadi 6. 995.842 m sedangkan Ahok stagnan dalam menambah panjang jalan (Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2010 & 2016 serta LKPJ Gub DKI 2015).

Kedua dari sisi angkutan umum, Jokowi hanya mampu menambah 1 koridor busway yang merupakan lanjutan proyek Foke dan Ahok gagal menambah jumlah koridor busway sementara Foke mampu menambah menambah 4 koridor baru (LPPD DKI Jakarta 2007-2012, LKPJ Gubernur DKI 2012, 2013, 2014, & 2015).

Dari sisi penumpang Busway, BPS menyebut bahwa Ahok hanya mampu menambah jumlah penumpang dari 111.260.431 (2012) menjadi 111.630.305 (2014) sedangkan Foke mampu menambah jumlah penumpang Busway dari 61.446.336 (2007) menjadi 114.783.000 (2011) (Buku Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2010, 2013 & 2016). BPS belum mengumumkan data 2015 & 2016, tetapi berdasarkan keterangan Kepala Dinas, jumlah penumpang pada 2016 mencapai 340.000/hari atau 122.400.000 masih jauh dari target yang ditetapkan

http://www.jawapos.com/read/2016/07/30/42052/target-penumpang-busway-meleset-segini-jumlahnya

http://indopos.co.id/jumlah-penumpang-busway-meleset-dari-target/

7. Banjir
Banjir masih gagal diatasi. Banjir saat ini bahkan telah menjangkau wilayah kerja sang Penguasa

http://news.liputan6.com/read/2605306/hujan-deras-kantor-ahok-kebanjiran

Lebih ekstrim, tidak perlu menunggu hujan 1 Jam, banjir telah terjadi

http://koran-sindo.com/news.php?r=0&n=23&date=2016-08-24

Selama ini diopinikan bahwa Banjir Jakarta berhasil diatasi karena Ahok. Faktanya, program banjir Jakarta yang selama ini berjalan adalah program pemerintah Pusat

http://m.tempo.co/read/news/2014/01/15/092544938/6-Proyek–Banjir-Ini-Bisa-Ringankan-Kerja-Jokowi

Jika pemerintah pusat tidak ingin mengeksekusinya, maka proyek tersebut tidak terlaksana. Oleh karena itu, untuk melihat buruknya kinerja Ahok terkait hal ini, tentunya perlu dibandingkan proyek pengendalian banjir sejenis.

Dalam konteks itu, Ahok dapat disebutkan gagal karena proyek Sodetan kali Ciliwung-Kanal Banjir Timur yang hanya sepanjang 1.27 KM mangkrak

http://news.metrotvnews.com/metro/nbwd3xDk-pembangunan-sodetan-ciliwung-di-bidara-cina-mangkrak

Sementara Foke mampu menyelesaikan Proyek Kanal Banjir Timur sepanjang 23.6 Km yang membebaskan 2,7 juta warga di 15.000 ha daerah rawan banjir (Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) DKI Jakarta 2007-2012).

8. Keterbukaan Informasi Publik (Transparansi)
Standar Keterbukaan Informasi Publik (KIP) & Transparansi Pengelolaan Daerah diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Publik & Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 188.52/1797/SJ/2012 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Transparansi Pengelolaan Anggaran Daerah. Kinerja Pemerintahan DKI Jakarta di bawah Ahok terkait hal ini sangat buruk. Hasil verifikasi Kemendagri pada Tahun 2015, DKI hanya memperoleh capaian 8.33% terkait informasi anggaran yang harus dipublikasikan

http://keuda.kemendagri.go.id/transparansikeuangan/pages/8-hasil-verifikasi-b09-tpad-provinsi-tahun-2015

Lebih lanjut, pada Tahun 2015, Hasil penilaian Komisi Informasi Publik DKI tidak masuk 10 besar

http://www.tribunnews.com/nasional/2015/12/15/jakarta-tidak-masuk-10-provinsi-dengan-keterbukaan-informasi-yang-baik?page=2

Capaian ini lebih buruk dari Foke yang mampu membawa DKI peringkat 2 Keterbukaan Informasi Publik tahun 2012

http://sp.beritasatu.com/home/foke-terima-penghargaan-dari-pemerintah/25230)

Jadi, pada awalnya adalah RRC melihat potensi pelemahan pertumbuhan ekonomi mereka.
RRC sudah mencoba melakukannya dengan membangun infrastruktur secara masif di negara sendiri, dengan membangun kota-kota hantu.
 
 
 
 
lalu China pun merasakan adanya semacam halangan internal, sehingga memutuskan untuk berekspansi dengan membentuk New Silk Road
 
 
 
Masalah muncul ketika proyek One Belt One Road ini ternyata terbukti menjadi turn key project yang diapply secara brutal. Duit dari CIna, Pekerja dari CIna, Material dari Cina, dan profit diambil Cina semua.
 
Indonesia tidak mendapatkan multiplier effect ke masyarakat dari proyek-proyek itu. Indonesia hanya mendapatkan infrastruktur-infrastruktur kelas rendah dan tumpukan hutang yang mencekik. Dan realisasi investasi Cina pun tersendat-sendat.
 
 
 
 
 
 
Khusus pembangkit listrik ini, sudah dapat pembangkit listrik kelas kampungan, eh tarif listrik akan naik terus pula
 
 
Dan rezim ini pun sudah dan akan terus mencabut subsidi-subsidi yang ada.
 
 
Sepertinya infrastruktur menjadi dewa rezim ini
 
 
Semacam dewa batu yang diimpor dari Cina.
 
Rezim pun memaksa rakyat miskin untuk membayar biaya kesehatan, berpotensi melanggar UUD Pasal 34.
 
 
sampai sini, sudah kerasa kenyataan bahwa rakyat akan sesak nafas di masa-masa depan?
 
Kita sudah faham bahwa infrastruktur dan impor adalah dewa-dewa rezim ini. Saking mendewakannya, proyek infrastruktur bernama reklamasi pantai-pantai utara Jawa sangat dibela oleh rezim ini, meski melanggar UU dan melanggar jutaan hak-hak rakyat dan berpotensi menjadi sumber invasi dari Cina.
 
 
 
 
 
 
 
Dan semua ini bermuara pada petahana gubernur jakarta yang sangat amat dilindungi oleh rezim.
 
Sampai suatu saat petahana pun menghina Quran.
 
 
Dan sampai sekarang kasusnya terus menggantung.
 
 
Dan berujung pada gerakan nasional 4 November 2016 yang akan menjadi sebuah gerakan masif.
 
Anehnya yang menjadi pontang-panting bukan pelakunya, tapi Presiden RI yang terlihat begitu sibuk membela petahana dan melupakan tugas-tugas lainnya.
 
Memang panjang ceritanya, tapi semua harus diungkap demi NKRI terus menjadi milik rakyat negeri ini, yang selama 4 abad gonta-ganti dijajah Belanda, Portugis, Jepang, dan sekarang Cina melalui hutang kejam dan reklamasi bengis.
 
Bengis?
 
Ya, bengis.
 
 
Sudah digusur, ditampung di rusun yang bukan peradaban mereka, diusir lagi pula.
 
Mana perlindungan negara terhadap rakyat asli?
 
Atau selama ini kita tidak punya pemerintah, hanya narasi tentang sebuah pemerintahan yang suka berfoto-foto dan selebrasi tanpa hasil nyata?
 
Balikpapan, 3 November 2016.
Eko Prasetyo
Pria di persimpangan hidup, dan hanya bisa menulis sebagai perjuangan untuk rakyat.

Ada Apa di Balik Aliran Sesat yang Melecehkan Islam?

Munculnya aliran sesat di Indonesia berlatarbelakang Kejawen yang melecehkan ajaran-ajaran Islam bukan kali ini saja terjadi. Pada masa lalu, pelecehan terhadap Islam oleh para penganut Kejawen dan aktivis kebangsaan juga kerap dilakukan. Mereka menyebut Islam sebagai agama yang diimpor dari Arab dan tidak cocok bagi masyarakat Jawa. Karena itu, mereka melakukan pelecehan terhadap syariat haji, shalat lima waktu, melecehkan al-Qur’an, dan lain-lain.

Sebut misalnya pelecehan yang dilakukan oleh dr Soetomo, pendiri organisasi Boedi Oetomo. Dalam sebuah pernyataannya di koran Soeara Oemoem, Soetomo pernah mengatakan, “Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekkah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.” Bagi Soetomo, uang yang dipakai untuk berhaji, tak lain adalah menimbun uang untuk kepentingan asing. Soeara Oemoem juga pernah memuat sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang menggunakan nama samaran “Homo Sum”. Tulisan itu mengatakan bahwa ke Boven Digul lebih baik dari pada ke Makkah. Siapa “Homo Sum” itu? Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa itu adalah Soetomo. Soeara Oemoem adalah surat kabar yang dipimpin oleh Soetomo, yang banyak menyajikan berita dan artikel tentang kebatinan.

pelecehan Islam yang mereka lakukan adalah mengulang cerita lama pelecehan-pelecehan yang pernah dilakukan para penganut Kejawen. Mereka seolah menyimpan ‘dendam turunan’, karena kepercayaan Kejawen terkikis oleh ajaran Islam.

Kebanyakan aktivis Kejawen saat itu adalah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Theosofi dan Freemasonry. Sebab, pelecehan yang dilakukan mereka terhadap Islam, sama persis dengan pelecehan yang dilakukan oleh para anggota Freemasonry dan Theosofi pada masa itu. Theosofi misalnya, pernah mengatakan, tidak usah beribadah haji ke Mekkah, cukup dengan mengunjungi candi Borobudur saja. Saat itu, kelompok Theosofi di Indonesia menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”.

Pelecehan serupa pernah dilakukan oleh Jong Vrijmeteselarij alias Pemuda Freemasonry di Batavia. Dalam sebuah pertemuan di Loge Broderketen Batavia, seorang propaganda Freemasonry yang menyebut Islam sebagai agama impor dan menghina tempat suci umat Islam, Baitullah, yang menurut mereka tak lebih baik dari Candi Borobudur dan Mendut.” Indonesia mempunyai kultur sendiri dan kultur Arab tidak lebih tinggi dari Indonesia. Mana mereka mempunyai Borobudur dan Mendut? Lebih baik mengkaji dan memperdalam Budi Pekerti daripada mengkaji agama impor. Kembangkan nasionalisme dalam semua bidang!” tegasnya.

Pada 21 April 1904, sebuah Koran Melayu-Jawa bernama “Darmo-Kondo” yang terbit di Surakarta memuat karangan tanpa nama penulis berjudul “Hal Budi Manusia”. Dalam tulisan itu dibahas tentang pengertian Budi. “Di antara keagungan yang ada di dunia, tidak ada yang lebih agung daripada “Budi”…orang berbudi yang tertidur lebih mulia daripada si dungu yang shalat.”

Dalam Koran Djawi Hisworo yang terbit di Solo pada 1918, penganut Kejawen Marthodharsono dan Djojodikromo membuat tulisan yang menghina Nabi Muhammad SAW dengan menyebutnya sebagai pemabuk dan penghisap candu. Penghinaan juga dilakukan aktifis Kejawen yang juga anggota Theosofi, Soewarni Pringgodigdo, yang mengatakan bahwa poligami adalah hal yang nista dan merendahkan perempuan. Soewarni mengatakan, Indonesia tidak akan mendapatkan kemerdekaan yang sempurna selama rakyatnya menyukai poligami. Poligami, katanya, hanya menjerumuskan orang ke jurang kehinaan dan ketidakmerdekaan. Karena itu jika bangsa Indonesia ingin maju dan modern, poligami harus dihapuskan.

Penghinaan terhadap ajaran Islam juga pernah dilakukan oleh aktifis Theosofi-Kejawen Siti Soemandari dalam Majalah Bangoen pada tahun 1937. Dalam beberapa artikel di majalah tersebut, Siti Soemandari sebagai pemimpin redaksi banyak memuat artikel yang melecehkan Islam, terutama tentang pernikahan dan menghina istri-istri Rasulullah. Akibat pelecehan yang dilakukan Majalah Bangoen umat Islam mengadakan rapat akbar di Batavia untuk memprotes artikel tersebut. Apalagi diketahui, Majalah Bangoendibiayai oleh Freemasonry.

Pelecehan Islam oleh Aliran Sesat Masa Kini

Kasus terbaru tentang aliran sesat Perguruan Santriloka dan Padange Ati (PA), sejatinya adalah mengulang cerita lama pelecehan-pelecehan yang pernah dilakukan para penganut Kejawen. Mereka seolah menyimpan ‘dendam turunan’, karena kepercayaan Kejawen terkikis oleh ajaran Islam.

Mengapa para penganut Kejawen begitu membenci ajaran Islam? Setidaknya kita bisa merunut kisah dari sejarah runtuhnya Kerajaan Mojopahit yang bercorak Hindu-Budha dan berdirinya Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Para raja Demak yang menganut Islam kemudian menyebarkan ajaran Islam ke rakyatnya, dan berusaha membersihkan kepercayaan peninggalan Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa.

Mereka beranggapan, al-Qur’an yang beredar saat ini salah karena dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Mojopahit, Jawa, dan Pancasila…

Kisah paling terkenal dalam masyarakat Jawa adalah tentang Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang (1426-1517), penganut kebatinan yang menyebarkan ajaran wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti), yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan. Ajaran Syekh Siti Jenar kemudian dianggap meresahkan oleh Wali Songo, para mubaligh Islam pada masa Kerajaan Islam Demak, karena bisa membawa kepada kesesatan. Syekh Siti Jenar kemudian dipanggil para wali dan petinggi kerajaan. Karena tetap mempertahankan keyakinannya, Syekh Siti Jenar akhirnya dihukum gantung di hadapan Sultan Fatah.

Meski sudah mati, ajaran Syekh Siti Jenar masih berkembang di Jawa. Mereka yang menganut paham wihdatul wujud atau al-hulul masih menjadikan Siti Jenar sebagai panutan, terutama oleh berbagai aliran kebatinan. Mereka yang meyakini Syekh Siti Jenar sebagai waliyullah, seperti menyimpan dendam turunan pada ajaran Islam. Sampai akhirnya muncul berbagai pernyataan yang mengatakan bahwa Islam adalah agama impor yang menjajah tanah Jawa. Pernyataan ini pernah dilontarkan oleh para aktivis Theosofi dan Freemasonry pada masa-masa suburnya gerakan tersebut di negeri ini.

Sebagai bukti bahwa penganut Kejawen seperti “menyimpan dendam turunan” pada ajaran Islam adalah kasus terbaru munculnya Perguruan Ilmu Kalam Santriloka, di Mojokerto, Jawa Timur, pada Oktober 2009. Santriloka menyatakan bahwa Islam adalah agama impor yang bertujuan menjajah tanah Jawa. Mereka juga beranggapan, al-Qur’an yang beredar saat ini salah, karena sesungguhnya al-Qur’an itu bukan dalam bahasa Arab, melainkan bahasa Kawi, bahasa Sanskerta, dan bahasa Jawa Kuno. Al-Qur’an yang beredar saat ini disebut sebagai buatan orang Arab untuk menjajah bangsa Indonesia. Karena mereka yakin bahwa al-Qur’an sesungguhnya dalam bahasa Jawa Kuno, maka bagi mereka al-Qur’an sebenarnya diturunkan di tanah Jawa kepada para wali dan Dewa. Naf’an menegaskan, ”Al-Qur’an yang ada ini, dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Mojopahit, Jawa, dan Pancasila. Siapa yang bertanggungjawab kalau al-Qur’an ini salah. Apa Nabi mau tanggungjawab.

Santriloka juga mengaku menjalankan kepercayaan wihdatul wujud dan meyakini Syekh Siti Jenar sebagai waliyullah yang bisa menjadi sarana tawassul. “Syekh Siti Jenar merupakan salah satu wali yang kami tawassul saat wiridan, ” ujar Ahmad Naf’an pimpinan perguruan sesat ini. Bagi para penganut kebatinan Syekh Siti Jenar adalah waliyullah yang dizalimi oleh para penganut Islam pada masa Kerajaan Demak

Doktrin Pluralisme
Seperti juga doktrin Theosofi yang kental dengan aroma pluralisme, Santriloka dan juga catatan-catatan dalam kitab para penganut Kejawen juga sangat kental dengan paham yang sama. Santriloka misalnya, menggunakan motto “Iman Sedarah” yang maksudnya agama apa saja pada intinya sama dalam keimanan. Mereka juga menolak surat al-Kafirun dalam Al-Qur’an yang dianggap bisa memecah-belah umat manusia. “Surat Al-Kafirun, itu sesat. Bukan kalam Allah tapi suara orang Arab. Bagaimana, kok bisa Tuhan Allah mengecam dan menyuruh orang agar memusuhi orang yang dianggap kafir, ” tegas Naf’an.

Doktrin pluralisme juga bisa dilihat dalam Darmogandul. Kitab  penganut Kejawen ini banyak berisi pelecehan terhadap ajaran Islam. Ajaran-ajaran Kejawen yang mirip dengan doktrin-doktrin yang ada pada ajaran Kristen…

Ketika para penganut Kejawen mengatakan bahwa tak perlu beribadah haji ke Mekkah, cukup dengan mengunjungi Borobudur dan Islam adalah agama impor yang menjajah tanah Jawa, maka jelaslah “sikap dendam” mereka terhadap ajaran Islam yang dianggap bertanggungjawab dalam runtuhnya peradaban Jawa Kuno yang bercorak Hindu-Budha.

Doktrin pluralisme juga bisa dilihat dari Kitab Darmogandul, kitab para penganut Kejawen yang banyak berisi pelecehan terhadap ajaran Islam. Dalam kitab tersebut, banyak ajaran-ajaran Kejawen yang mirip dengan doktrin-doktrin yang ada pada ajaran Kristen. Isi Kitab Darmogandul dalam beberapa hal justru menunjukkan bahwa penulisnya yang no name (tanpa nama) terlihat lebih menguasai ajaran-ajaran Kristen. Dalam kitab ini penulisnya berusaha untuk menggambarkan bahwa agama Kristen lebih unggul dibanding agama-agama lain. Kristen dalam Darmogandul digambarkan dengan imej positif, sementara Islam digambarkan dengan sangat negatif, bahkan melecehkan. (Lihat: Susiyanto: Jejak Syariah Phobia dalam Pemikiran Jawa, (Makalah), 2009).

Dalam Kitab Darmogandul disebut istilah wit kawruh yang berarti “Pohon Pengetahuan”, sebuah idiom yang terdapat dalam ajaran Kristen seperti tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Kejadian 2:16-17: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”. Dalam istilah yang hampir sama, ajaran Kabbalah menggunakan istilah “Pohon Kehidupan” (Tree of Life).

Berikut kutipannya:

“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora naganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkana kang kasebut ing kitab Ambiya.”

(Yang dinamakan agama Nasrani artinya sarana berbakti benar-benar berbakti kepada Tuhan, tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, Maka gelar Gusti Kanjeng Nabi Isa adalah Putra Allah, karena Allah yang mewujudkannya, demikian yang termaktub dalam kitab Ambiya).

Kisah dalam Kitab Darmogandul juga merujuk pada Perjanjian Lama yang dijadikan dasar rujukan oleh Kristen dan Yahudi. Misalnya kisah mengenai putra Nabi Daud yang disebut akan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan ayahnya. Kudeta tersebut gagal, dan sang anak mati tersangkut di pohon.

Berikut kutipannya:
“…carita tanah Mesir, panjenengane Kanjeng Nabi Dawud, putrane anggege keprabone rama, Nabi dawud nganti kengser saka nagara, putrane banjur sumilih jumeneng nata, ora lawas Nabi Dawud saged wangsul ngrebut negarane. Putrane nunggang jaran mlayu menyang alas, jaranae ambandang kecantol-cantol kayu, putrane Nabi Dawud sirahe kecantol kayu, ngati potol gumantung ana ing kayu, iya iku kang di arani kukuming Allah.”

(cerita dari Mesir, Beliau Nabi Dawud, putranya bernafsu menggantikan kekuasaan sang ayah. Nabi Dawud sampai terdesak meloloskan diri keluar dari Negara, Anaknya tersebut kemudian menggantikan sebagai raja, tidak seberapa lama Nabi dawud kembali berhasil merebut negaranya. Anaknya melarikan diri dengan mengendarai kuda menuju ke hutan. Kuda tersebut berlari tanpa tentu arah tersangkut-sangkut kayu. Putra Nabi dawud kepalanya menyangkut di kayu sampai terpotong menggantung dikayu. Itulah yang dinamakan hukum Allah).

Dalam perjanjian Lama, Kitab Samuel 2 pasal 15-18 diceritakan, Absalom putra Raja Daud berusaha mengadakan makar dengan menghimpun kekuatan rakyat untuk memberontak terhadap ayahnya. Dalam pemberontakan itu, Absalom kalah dan tewas mengenaskan dengan kepala tersangkut di atas pohon saat melarikan diri dengan menggunakan bagal, binatang keturunan kuda dan keledai. (Susiyanto, Ibid, hal.6)

Contoh doktrin-doktrin pluralisme juga bisa dilihat dari ajaran-ajaran yang menjadi kepercayaan organisasi-organisasi Kejawen seperti Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), Agama Sapta Dharma, Paguyuban Sumarah, Paguyuban Ilmu Sejati, Susila Budi Dharma, Agama Jawa-Sunda, dan lain-lain. Organisasi-organisasi ini meyakini bahwa semua agama adalah sama.

Politik Kolonialis
Mengenai asal usul Kejawen, sejarawan Niels Mulder mengatakan, ”Kejawen sejauh yang kita ketahui saat ini jelas-jelas merupakan sebuah produk dari pertemuan antara Islam dengan peradaban Jawa Kuno, produk dari penjinakan, penundukkan kerajaan-kerajaan Jawa oleh kongsi dagang Hindia Timur (VOC), hasil dari pertemuan kolonial antara orang Jawa dan Belanda.” (Niels Mulder, Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia, Yogyakarta: LKiS, 2009).

Karena persentuhannya dengan kolonialisme dan aliran-aliran lain seperti Theosofi yang berupaya merusak Islam, maka wajar jika ajaran kebatinan juga banyak melecehkan ajaran Islam…

Niels menggambarkan bahwa Kejawen adalah “produk penjinakan dan penundukkan” kerajaan-kerajaan Jawa oleh VOC. Dan seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa banyak dari pegawai VOC, dari juru tulis sampai jabatan tertinggi, adalah para keturunan Yahudi yang di kemudian hari membangun jaringan Freemasonry dan Theosofi di Indonesia. Niels menegaskan, orang Jawa dan Eropa bertemu dalam masyarakat Theosofis, dalam kawruh beja (Ilmu Kebahagiaan).

Soal pengaruh kolonialis dalam Kejawen juga dinyatakan oleh Buya Hamka. Dalam tulisannya tentang perkembangan kebatinan di Indonesia, Hamka menyatakan bahwa ada upaya-upaya dari kelompok orientalis Belanda yang menyusup ke dalam ajaran kebatinan atau Kejawen, dengan berkedok meneliti ajaran kepercayaan Jawa tersebut, kemudian menyebarkannya ke kalangan masyarakat Islam dengan tujuan perusakan akidah. Mereka menyebarkan propaganda bahwa kebatinan tak ubahnya sebagai sufisme dalam Islam.

Hamka mengatakan, “Sarjana-sarjana orientalis seperti Snouck Hurgronye, Dr Drewes, Dr Rinkes, dan lain-lain mengkaji secara ilmiah tasauf kuno dan kejawen, kemudian disebarkan kepada masyarakat. Sehingga disimpulkan oleh mereka bahwa tasawuf Islam adalah “al-hulul” atau “bersatunya kawula nan gusti”. Tujuannya, apabila tasawuf sudah dipelajari secara mendalam, maka syariat tidak perlu lagi. Orang Islam yang bertasawuf bisa mencapai persatuan dengan Tuhan.” (Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1974).

Karena persentuhannya dengan kolonialisme dan aliran-aliran lain seperti Theosofi yang berupaya merusak keyakinan Islam, maka wajar jika ajaran-ajaran kebatinan juga banyak melecehkan ajaran Islam. Tentang jihad misalnya, para penganut kebatinan mengatakan, ”berjuang melawan hawa nafsu sendiri karena isyqdan cinta kepada Tuhan Semesta Sekalian Alam lebih tinggi nilainya daripada mati syahid di medan perang karena mempertahankan agama dari serbuan musuh.”

Antara misi Kristen dengan penjajahan Belanda memang satu paket. Dan untuk melakukan pelemahan terhadap Islam yang saat itu begitu gigih melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, menghasut dengan membuat cerita-cerita negatif dan melecehkan adalah salah satu cara yang mereka gunakan. Tak tertutup kemungkinan, mereka melakukan politik pecah belah, memukul dengan menggunakan tangan kelompok kebatinan, yang memang sudah dari dulu menyimpan ‘dendam’ dengan umat Islam akibat jatuhnya Mojopahit ke tangan kerajaan Demak. [Artawijaya/voa-islam.com]

sumber: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2009/11/13/1675/ada-apa-di-balik-aliran-sesat-yang-melecehkan-islam/

Nama Drone sering diberikan pada sebuah alat yang terlihat seperti bisa bergerak sendiri padahal digerakkan oleh seseorang dari jauh. Hal ini sepertinya bisa kita sematkan juga pada presiden Indonesia 2014 yang sepertinya bergerak sendiri tetapi tanda-tanda bahwa dia digerakkan oleh pihak lain sudah cukup nyata.

Dia mau membeli 2500 kapal dari Cina untuk pemenuhan kebutuhan tol laut, sedangkan PT PAL, perusahaan anak bangsa sendiri mempunyai kemampuan mumpuni

Lalu dia juga berkata bahwa BUMN BOLEH DIPIMPIN ASING. Tentu saja orang-orang akan bertanya: Mana nasionalisme Jokowi yang dulu diagung2kan semasa kampanye? Seakan lenyap tak berbekas.

Kepemimpinan BUMN oleh asing ini adalah topik yang ramai dibicarakan setelah menteri BUMN, yang bawa BUMN hancur2an di jaman Megawati, Rini Soemarno, menyatakan dia akan menjual Gedung Kementerian BUMN dan menyewa tempat lain. Ini adalah sebuah kebodohan dari otak yang terkena racun liberalisme ekonomi akut. Kalau sebuah lembaga negara tidak punya tempat sendiri, dia akan menjadi korban permainan penyedia tempat. Belum lagi kalau ternyata dia menjual gedung, dan kemudian menyewa gedung tersebut ke pembeli. Apa gak gila itu namanya? Jadi ingat kasus Tanker Pertamina yang dijual di jaman Megawati kemudian Megawati menyuruh pertamina menyewa tanker tersebut.

Jadi dimana sebenarnya nasionalisme Jokowi? Tersisa hanya di film2 dan pencitraan-pencitraan saja kah?

Another Story from Lereng Merapi; Aahaiiiiy…ANDUK WAJAN.?!!!!

note: bukan saya yang bikin cerita
***
= Lika-Liku Terpilihnya Anduk Wajan Sebagai Sekretaris Abadi Dalem =
[by Ragil Nugroho]

Tri Sakti itu: Cabut subsidi BBM, Undang Modal Asing seluas luasnya, Gebuki Oposisi terhadap Kekuasaan.

Guru sering paling apes….Misal ketika Jokowi naikkan harga BBM, kemudian muncul pertanyaan: “siapa sih gurunya Jokowi kok bikin sengsara rakyat”

Lereng merapi hujan deras. Semoga semakin menyuburkan bumi.

Mau niru Damarwulan >> Aaahahahaaaa….LoL
@inilahdotcom: “Semedi 40 Hari di Bak Mandi, Hairuddin Tewas” >>> http://m.inilah.com/news/detail/2157269/semedi-40-hari-di-bak-mandi-hairuddin-tewas

Brewok dan Betoro Kolo menggelontorkan kepeng dua kointainer utk mendukung Lanang mengalahkan Pak Cakil.Tapi ujungnya akan bagi rata.

Menkopolhukam ini adalah Syarwan Hamid yang terlahir kembali. Yang ingat peristiwa 27 Juli pasti ingat ucapan2 Syarwan Hamid.

Baru jadi relawan sudah larang larang film >> Film Jokowi Ditarik dari Bioskop, Ini Alasannya
http://m.kompas.com/entertainment/read/2014/11/23/141700810/Film.Jokowi.Ditarik.dari

KPK kayaknya gak berani nangkap Orang satu ini. Dari kemarin cuma janji janji >> KPK Akan Putuskan Nasib Olly Dondokambey Pekan Ini
http://nasional.kompas.com/read/2014/08/04/14282571/KPK.Akan.Putuskan.Nasib.Olly.Dondokambey.Pekan.Ini

Salah satu ciri rejim otoriter adalah mencampuri urusan Parpol, dan ini mulai ditunjukkan oleh Orde Kera. Cara2 Orbais mulai dipakai.

Yang msih tajam ingatannya; pasti ingat peran Yoris dalam penyerangan kantor PDI Jl. Diponegoro 27 Juli 1996 . Kini dia dia mainkan lagi.

Beberapa jam setelah pengumuman abdi dalem, Anduk Wajan frustasi karena tak masuk dalam komposisi abdi Damarwulan #infomalamragilnugroho1

Sebagai salah satu punggawa Tim Transistor, ia sudah dijadikan posisi sebagai abdi dalem. #infomalamragilnugroho1

Namun sampai baju putih dibagikan, Anduk Wajan tak mendapatkan. Ia tak mau mengikuti Joko Oro2 yg membeli sendiri baju putih di Pasar Baru.

Sehari stelah pengumuman, ia banyak merenung di kantor Tim Transistor. Dua temannya, Rince dan Satria Hadramaut masuk jadi Abdi dalem #infomalamragilnugroho1

Hanya dirinya dan Kabar Ngasal yg tersingkir dari posisi abdi dalem, padahal Satria Hadramaut yg baru justru menjadi abdi dalem #infomalamragilnugroho1

Jabatan Juru Tulis abdi dalem oleh Damarwulan akan diberikan kepada Joko Oro2. Ia telah berjanji pada Oro2 sore hari stelah pengumuman #infomalamragilnugroho1

Tentu saja mengethaui itu hati Anduk Wajan remuk redam. Ia bakal gigit jari bila Damarwulan lebih memilih Joko Ora2 #infomalamragilnugroho1

Maka sebagai usaha terakhir Anduk Wajan menghubungi Maknyak yg lagi main kuda2-an dengan Jendral Berkumis. Maknyak yang masih ngos-ngosan menerima telpon dari Anduk Wajan. Maknyak berjanji akan menghubungi Damarwulan #infomalamragilnugroho1

Bagaimanapun, Maknyak berhutang budi pada Ayah Anduk Wajan, si Pii. Si Pii ini Orang Mbah Bens yg ikut menyokong Maknyak #infomalamragilnugroho1

Pii ikut membantu Maknyak agar bisa menjadi Ketum Partai Kerbau jaman Mbah Piye berkuasa. Sekarang Maknyak akan balas jasa #infomalamragilnugroho1

Anduk Wajan sendiri sudah bersiap berlibur ke Negri Kanguru utk menenangkan diri. Ia mau memplontos kepalanya #infomalamragilnugroho1

Negri Kanguru ia sudah siap2 belajar melempar bumerang untuk menghajar Damarwulan yg ingkar janji #infomalamragilnugroho1

Pada saat berangkat itulah Tikno Bulaksumur datang. Sebagai sekretaris kerajaan dia membawa berita utk Anduk Wajan #infomalamragilnugroho1 — with Abdul Gani, Listyok, Hadi Musaparin, Rosa Anami Lana Pelu, Dee SaLdana, Diah Madusari, Yulie E Pradopo and Taryn Paramita.

Koalisi Indonesia Hebat bikin DPR tandingan. Katanya harus legowo.

http://www.jpnn.com/read/2014/10/29/266751/Muncul-Pimpinan-DPR-Tandingan,-Ini-Kata-Yusril-

Terus ada lagi Hendropriyono bilang warga bunuh diri ketika Kasus Talangsari

http://news.fimadani.com/read/2014/10/30/kasus-talangsari-hendropriyono-sebut-warga-bunuh-diri/

Kok makin koplak ini para kubu Jokowi?

Terus ada tukang tusuk sate yang membully Jokowi dipenjara, beritanya sampai heboh katanya mau sujud2 depan Jokowi:

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/28/063617756/Hina-Jokowi-di-FB-Tukang-Tusuk-Sate-Ini-Ditahan

Selamat datang Orba II!

Mari kita memulai hari ini dengan berita akan datangnya rezim Orba II:

http://news.okezone.com/read/2014/10/28/337/1058075/pria-ini-ditangkap-mabes-polri-setelah-hina-jokowi

Ini entah apa maksud berita ini: ancaman kah atau sekedar berita.

Lalu ada berita tentang menkuhham yang melabrak undang-undang:

http://www.pkspiyungan.org/2014/10/soal-kisruh-ppp-menkumham-yasonna.html?m=1

dan ada berita tentang PPP yang ngamuk2:

http://news.fimadani.com/read/2014/10/28/dpr-ricuh-meja-fraksi-ppp-dijungkirbalikan/

Sepertinya dekat-dekat dengan Jokowi membuat orang semakin paranoid, gila, dan gak tau aturan

Dan Jokowi sendiri sudah menambah daftar kebohongannya:

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/550619-kadin-tagih-komitmen-jokowi-bentuk-kementerian-ekonomi-kreatif

http://news.detik.com/read/2014/06/01/231136/2596646/1562/jokowi-pilih-mendikbud-dari-pgri-jika-jadi-presiden